20150423_162058Berbicara tentang Batik tentunya berhubungan erat dengan gaya berpakaian manusia Jawa. Salah satu fungsi berpakaian disamping untuk menutup aurat dan melindungi diri dari gangguan alam, juga berpakaian untuk keindahan dalam berpenampilan. pemilihan motif dan warna pakaian dapat diwujudkan dalam corak batik. Secara Tradisional Batik dibuat dengan cairan sejenis lilin yang dapat meresap dalam kain atau serap. Tahapannya dimulai dari membuat pola, pencelupan pewarnaan untuk mendapatkan karya batik yang di inginkan.

Penanaman batik di lingkungan Keraton Surakarta dikenal dengan berbagai macam bentuk dan coraknya, seperti batik Sidoluhur, Batik Kawung, Batik Pringgondani, Batik Kraton, dan lain sebagainya. Batik Keraton biasanya dibuat oleh ahli batik yang hidup di lingkungan Keraton dengan motif-motif tertentu dan dipakai secara khusus oleh kerabat Keraton. Motif batik ada yang tidak diperkenankan dipakai oleh orang biasa, seperti batik Sekarjagat, batik Parang Baron, atik Parang Rusak, batik Udan Liris, dan lain sebagainya.

Batik Sekar Jagat adalah motif batik yang mengandung makna kecantikan dan keindahan sehngga orang lain melihatnya akan mempesona, motif batik ini sangat cocok dipakai saat pesta, hajatan, acara lainnya.\ untuk motif batik Sido Luhur yang mengandung makna untuk mengangkat derajat yang lebih baik/tinggi, sehingga motif batik Sido Luhur amat cocok dipergunakan para pejabat, pamong praja, abdi dalem, dan lain sebagainya. Namun dalam perkembangan penggunaan kain batik tidaklah kaku, artinya penggunaan kain batik mengarah kepada selera dan kepatutan bagi pemakai, sehingga pembuatan kain batik lebih melirik pangsa pasar atau kehendak para pembeli.

Dengan perubahan kiblat motif-motif batik yang melirik ke pangsa pasar, maka corak batik yang berkembang dalam masyarakat beraneka macam, ada batik dengan gambar bunga, ada gambar langit, ada gunung dan lain sebagainya. Keanekaragaman motif batik tersebut dapat dijumpai di kelompok pengrajin ” Batik Wahyu Sari ” desa Seberan, Girilayu, Matesih, Karanganyar yang dipimpin ibu Sugiyem. pembuatan batik di Wahyu Sari melalui tahapan-tahapan seperti lainnya, namun motif yang bernuansa alami lebih mendominasi. Sehingga lekukan-lekukan batik menggambarkan bunga, buah-buahan, pepohonan lebih mendominasi. Kegiatan membatik dikelompok batik Wahyu Sari bahwa tenaga kerjanya ( pegawainya ) tidak berkumpul dalam satu tempat tertentu, tetapi melibatkan seluruh ibu-ibu rumah tangga yang ada di desa Seberan yang berjumlah sekitar 60-75 personil. Jadi kerjasama yang dikembangkan adalah ” Kebersamaan Saling Menguntungkan ” artinya Wahyu Sari sebagai penyedia prasarana produksi seperti kain, motif batik, bahan pokok membatik, dan lain sebagainya, sedangkan warga masyarakat sebagai pekerja / pembatik dari proses membatik, pencelupan, pewarnaan, dan lain sebagainya. Produk-produk batik yang dibuat warga masyarakat disetorkan kembali ke Wahyu Sari untuk dijual kepada konsumen yang membutuhkan.

jika anda berkunjung ke tempat wisata religi makam Mangadeg dan Astana Giri Bangun di Matesih – Karanganyar, maka oleh-oleh cantik untuk keluarga di rumah adalah Batik GIRILAYU. maka sempatkan anda mampir ke desa Girilayu. Anda pun akan menemui para pengrajin batik yang siap menawarkan batik manis nya.

Posted in: buah tangan.
Last Modified: November 10, 2015