Dapur di salah satu rumah di Badranasri RT 2/ RW IX Cangakan, Karanganyar terlihat sibuk sehari-hari. Sejumlah bahan makanan seperti tepung terigu, telur, margarin, coklat, dan lainnya terlihat menggunung di salah satu sisi ruangan. Nampak pula seorang ibu muda tengah asyik mencampur semua bahan-bahan tersebut di sebuah baskom. Sesekali dia menambahkan tepung terigu lantaran adonan terlalu lembek.

Puspita Sari, dialah pemilik Brownis Cinta yang kini tenar di Karanganyar, Solo, Boyolali, Klaten, dan sekitarnya. Popularitas produknya membuat ia sibuk melayani pesanan para pelanggan. Sang suami Fauzi Yunianto tak kalah sibuknya turut mengelola usaha yang dirintis dengan istrinya sejak Agustus 2012 itu. Ada yang menarik dari brownis ini. Ia diberi nama Brownis Cinta. Mengapa demikian? Usut punya usut, nama itu ternyata punya nilai sejarah bagi keduanya. Konon sewaktu mereka melaksanakan perkawinan, brownis dengan bentuk khas daun cinta menjadi hadiah dari perkawinan mereka. ?Dua bulan setelah menikah, yakni Agustus 2011 kami memulai usaha. Kenapa disebut cinta? Karena ini berawal dari cinta kami dan saat kali pertama di-launching bentuk bronis adalah love,? kata Fauzi.

Dia menuturkan usaha yang kini mulai sukses itu sejatinya tidak selalu berjalan mulus. Di awal usahanya, dia bersama istri kesulitan dalam hal pemasaran. Betapa tidak, dia hanya menggunakan sistem titipan ke sekolah-sekolah. Promosi pun hanya dilakukan dari mulut ke mulut para pelanggannya dari Karanganyar, Solo, Wonogiri, dan Klaten. ?Biasanya akhir tahun mereka ke sini dan dibawa ke daerahnya masing-masing. Lalu mereka mulai menyebarkan keberadaan kami kepada teman-temannya hingga saat ini,? ujarnya.

Dalam sehari, dirinya bersama lima orang pekerja dapur bisa menghasilkan puluhan brownis. Harganya pun bervariasi, tergantung jenis dan ukurannya, berbicara soal varian, Browis Cinta menawarkan tujuh varian, yakni cinta original, hitam putih, oven with almond, keju, mini, mandarin, kentang.

Disinggung soal permodalan, dirinya pun mengaku tidak lagi mengalami kendala. Sejak berdiri, Fauzi dan istrinya mengandalkan uang pribadi dan beberapa pinjaman. Namun, sekarang ini Pemkab Karanganyar melalui Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Mikro Menengah (Disperindagkop dan UMKM) membantunya. Selain mendapatkan kucuran kredit dengan bunga ringan, binaan dari Disperindagkop dan UMKM itu juga mendapatkan sejumlah arahan melalui pelatihan-pelatihan.